Baca berita tentang haji yang sebentar lagi, pikiranku langsung terbang lagi ke barat daya. Melewati riak-riak angkasa, melarung sebelas jam menngarungi daratan dan lautan. Makkah dan Madinah, Dua Tanah Suci bahkan Raja Saudi menggelari dirinya sebagai 'Pembantu Dua Tanah Suci', yang begitu istimewa bagi seluruh umat muslim sedunia.
15 September setahun lalu, mungkin aku sedang sibuk mengurusi barang-barang yang akan dibawa ke Tanah Suci. Ya, alhamdulillah, kalau kau bertanya, aku memang ke Tanah Suci untuk menemani ibuku menunaikan rukun Islam ke 5. Ada yang bertanya, "kalau kamu nemenin ibu, kamu ikut haji?". Penginnya ketawa atau bilang "ya iyalah, masa ya iya dong.", tapi ga boleh ngomong seperti itu. Aku hanya tersenyum dan menjawab "iya.". Rupanya lebih mujarab menjawab seperti itu. Yang tanya, tidak tanya-tanya lagi.
Bolehlah punya rencana traveling 5 benua, sekian ratus negara, ribuan kota, dsb, tapi --sama seperti aku yang sebelumnya tak menyangka akan menginjak Tanah Suci--setelah perjalanan agung itu, kalau punya uang lagi, aku--rasa-rasanya kalau milih disuruh trveling--milih umrah lagi atau haji lagi. Sumpah!
Entahlah, rasanya damaaaaaaaaai banget di sana. Orang-orang bilang di Makkah dan Madinah panas menyengat dsb, alhamdulillah, aku tidak merasakan seperti itu. Kalaupun ada yang merasakan seperti itu, bukan berarti orang itu banyak dosa, ada masalah di masa lalu, dsb, bukan. Tubuhku kurus dan hanya memiliki sedikit lemak, jadi rasanya, alhamdulillah, nyaman-nyaman saja. Kebetulan, cuaca saat itu memang sedang paling enak buat jamaah haji. Musim panas mendekati musim semi (eh, bener ga ya?), jadi enggak begitu panas dan enggak begitu dingin. Subuh-subuh pun rasanya seperti jam tujuh pagi di Jogja pada musim hujan, malam-malam pun rasanya fine-fine aja, kok. Sekali lagi, Alhamdulillahirabbil 'alamin.
Ada banyak pertanyaan mengenai 'hal-hal aneh' apa yang kualami selama di Makah dan Madinah. Suer, pertanyaan seperti ini membuatku tertawa. Bukan menertawakan penanya atau pertanyaannya, tapi sejatinya, aku tidak mengalami--atau tidak sadar kalau mengalami--hal-hal yang kerap menjadi perhatian media masa itu. Aku pernah dengar--cerita seorang teman seregu haji--bahwa tahun 88, sepasukan Iran dari Qom, menyerbu Masjidil-Haram. Saat itu, ada anjing besar berwarna hitam. Entah apa maksud penyerangan itu. Dulu, Abrahah juga bernafsu memindahkan 'haji' ke Qom, Iran, tapi sebelum mencapai Ka'bah--lebih tepatnya di Muzdalifah, Allah menurunkan burung Ababil yang membawa batu kerikil dari neraka. Kejadian itu terekam abadi dalam surat Al-Fiil. Dan kejadian itu, menandai kelahiran Nabi Besar, Panglima seluruh umat manusia, Rasul yang menjadi alasan Allah membangun Surga Firdaus: Rasulullah Muhammad Saw. Shalawat untuk beliau dan ahlul-bait beliau.
Ada banyak orang yang mengatakan bahwa setelah menunaikan ibadah haji, seseorang akan berubah. Benar. Sejauh ini, aku merasakan demikian. Perjalanan haji pada intinya--yang kupahami--adalah rangkaian untuk menjadikan seorang manusia menjadi manusia. 'Ali Syari'ati, dalam bukunya Menjadi Manusia Haji, mengatakan bahwa--maaf ya kalau redaksinya kurang tepat--selama ini yang dilakukan manusia, tidak jauh dengan binatang. Manusia cari makan, binatang juga cari makan. Manusia berketurunan, binatang pun demikian. Haji--kata 'Ali Syari'ati menjadikan manusia menjadi manusia. Ia adalah khalifah, bertindaklah sebagai khalifah. Bumi pernah ditawarkan kepada makhluk ciptaan Allah sebelum manusia, mereka mengatakan tidak sanggup. Ketika Allah menciptakan Adam dan menawarkan bumi untuk diolah, Adam menyanggupinya. Allah menurunkan Adam ke muka bumi bersama dengan Ka'bah Al-Mukaromah.
Setiap kali aku merasa penat dengan permasalahan yang aku hadapi, aku mengingat semua keberuntungan yang kudapatkan. Haji adalah salah satu dari sekian banyak keberuntungan yang kudapatkan. Aku tidak mengatakan bahwa ketidakberuntungan adalah suatu hal yang buruk. Permasalahan pun rezeki dari Allah Swt yang menjadi tanda bahwa kita mendapatkan perhatian dari Nya.
Kurang apa, coba, Laily? tanyaku dalam hati setiap melongok ke dalam hati sanubari sebelum beranjak tidur. Usia 23 th, kamu sudah menunaikan ibadah haji. Belum bekerja--bahkan belum wisuda, kamu sudah dijatah sekian ratus meter tanah oleh kedua orangtuamu. Kau mengatakan kamu kurus, padahal, setiap orang menginginkan tubuh seperti dirimu. Meskipun terkadang aneh, paling tidak, tidak ada orang yang menyatakan kebencian kepadamu. Hanya masalah uang menipis, kamu kembang kempis. Hanya masalah kangen keluarga, kamu pengen cepet-cepet mutasi kerja. Mana kesabaranmu, Hajjah? Yang paling penting dari seseorang yang sudah haji adalah kesabarannya. Sabar mengantre administrasi di loket di bandara Jeddah, sabar menanti bus mengantar ke Madinah, sabar mengantre lift, sabar mengantre di kamar mandi di Masjidil-Haram, sabar berdesakan di dalam bus Saptco, sabar kehimpit-himpit orang-orang besar. Sabar dan sabar. Dan siapakah yang mengatakan sabar ada batasnya?
Benar adanya firman Allah Swt, "Manusia adalah makhluk yang suka tergesa-gesa."
Sabtu, 15 September 2012
Sabtu, 25 Agustus 2012
Stepping my foots on Your earth
Pagi ini aku sedang berusaha mengeja keindahaan-Mu, ya Allah
berusaha mengabjad betapa alamMu begitu cantik,
tapi, tetap tak tereja tak terabjad
betapa tanda kehdairanMu di alam ini begitu nyata
Pagi ini aku sedang menghitung cintamu, Nabi
cinta kepada umat yang kaurindukan sebelum kau menghadapNya
tapi, cintamu tetap tak terhitung
pengorbananmu memperjuangkan agamaNya di muka bumi,
buatku malu kalau aku tidak segera mengerjakan shalat
Maka, yaa Allah, cukupilah hatiku dengan cintaku kepadaMu
cukupkanlah aku bahwa Engkau Tuhanku, Muhammad Nabiku, dan aku adalah hambaMu
Aku mohon cintaMu,
dan cinta semua hamba dan makhluk yang mencintaiMu
dan cinta kepada amalan-amalan yang mendekatkanku pada cintaMu.
Amin.
berusaha mengabjad betapa alamMu begitu cantik,
tapi, tetap tak tereja tak terabjad
betapa tanda kehdairanMu di alam ini begitu nyata
Pagi ini aku sedang menghitung cintamu, Nabi
cinta kepada umat yang kaurindukan sebelum kau menghadapNya
tapi, cintamu tetap tak terhitung
pengorbananmu memperjuangkan agamaNya di muka bumi,
buatku malu kalau aku tidak segera mengerjakan shalat
Maka, yaa Allah, cukupilah hatiku dengan cintaku kepadaMu
cukupkanlah aku bahwa Engkau Tuhanku, Muhammad Nabiku, dan aku adalah hambaMu
Aku mohon cintaMu,
dan cinta semua hamba dan makhluk yang mencintaiMu
dan cinta kepada amalan-amalan yang mendekatkanku pada cintaMu.
Amin.
Rabu, 22 Agustus 2012
Cerita Lebaran 2#: Teman Sejati
Malam2, lepas isya', datanglah panggilan dari bawah...ibu memanggil (aku tidur di lantai atas, memang perlu dipanggil biar turun ke bawah). Ada tamu. Namanya bu Sulis dan dua anaknya, Danar dan mas Yudha.
Bu Sulis dulu pernah tinggal di rumah sebelah rumah kami. Rumah masa kecilku. kami bertetangga baik dan anak2 bu Sulis dekat dengan kedua orangtua kami. Karena bapak bercanda, rumah masa kecilku itu dibeli bu Sulis untuk anak pertamanya, namanya mbak Ratih.Ya..itu masa silam.sudahlah.
Malam itu bu Sulis datang seperti biasa, salam2an dan speaking2 seperti biasa.
Satu2 dari kakak dan adikku dibahas. Tibalah giliranku. Mendengarku tinggal di Lembang, Bandung, bu Sulis nampak cerah. Beliau teringat pernah tinggal di Bandung 4 tahun (dan beliau sempat berbicara dalam bahasa Sunda yang maksudnya kurang lebih: jauh dari orangtua memang pengorbanan--meureun :D )
maka sampailah pada ular-ulran dari bu Sulis untukku:
"Jauh dari orangtua, satu-satunya teman adalah Allah Swt. MAnusia bisa mengecewakan kita, tapi Allah Swt tidak akan pernah mengecewakan kita. BAca Al-Qur'an dan artinya, minimal satu ayat. Itu bisa jadi obat dan membuat hati jadi tenang."
iya, memang itu bener banget.
"yang ngobatin bu Sulis stelah bapak ga ada--suaminya, red--adalah al-Qur'an.Alhamdulilah,sekarang lebih semeleh."
Bu Sulis dulu pernah tinggal di rumah sebelah rumah kami. Rumah masa kecilku. kami bertetangga baik dan anak2 bu Sulis dekat dengan kedua orangtua kami. Karena bapak bercanda, rumah masa kecilku itu dibeli bu Sulis untuk anak pertamanya, namanya mbak Ratih.Ya..itu masa silam.sudahlah.
Malam itu bu Sulis datang seperti biasa, salam2an dan speaking2 seperti biasa.
Satu2 dari kakak dan adikku dibahas. Tibalah giliranku. Mendengarku tinggal di Lembang, Bandung, bu Sulis nampak cerah. Beliau teringat pernah tinggal di Bandung 4 tahun (dan beliau sempat berbicara dalam bahasa Sunda yang maksudnya kurang lebih: jauh dari orangtua memang pengorbanan--meureun :D )
maka sampailah pada ular-ulran dari bu Sulis untukku:
"Jauh dari orangtua, satu-satunya teman adalah Allah Swt. MAnusia bisa mengecewakan kita, tapi Allah Swt tidak akan pernah mengecewakan kita. BAca Al-Qur'an dan artinya, minimal satu ayat. Itu bisa jadi obat dan membuat hati jadi tenang."
iya, memang itu bener banget.
"yang ngobatin bu Sulis stelah bapak ga ada--suaminya, red--adalah al-Qur'an.Alhamdulilah,sekarang lebih semeleh."
Cerita Lebaran 1# : Ikhlas, Sabar, Syukur, Berkurban
NAmanya pak Sigit, suaminya bu Yuli. Tetangga sejak aku masih anak-anak. HAri pertama lebaran, mereka selalu mampir ke ruamh. Kebetulan memang bapakku adalah orang tertua di jalan Harjuna. KAli ini, mereka datang dengan personel lengkap: sepasang suami istri dan tiga orang anak.
PAk Sigit kerja di perusahaan tambang di Jakarta. bu Yuli lulusan S2 psikologi dan memilih jadi ibu rumah tangga. Anak pertama, Zahra, mahasiswi Arsitektur Undip. Anak kedua, Bintang, masih SMA, yang ketiga, Caesar, masih anabil :D . Setelah salam2 seperti biasanya, bu Yuli ngobrol dengan ibuku, menanyakan bagaimana keadaannya--karena beliau tahu, ibuku belum lama ini opname karna sakit jantung. Ibu menjawab yang--mungkin karena redaksinya--terdengar seperti keluhan. Sebagai orang yang begitu lama berkecimpung di psikologi, bu Yuli mengiyakan dulu keluhan ibu, setelah itu memberikan masukan.
"Iya, Bu, tidak apa-apa. Semua memang perlu proses. Mengeluh dulu tidak apa-apa, setelah itu ikhlaskan. Insya Allah cepat sembuh. Yang penting dari penyembuhan adalah dari dalam diri sendiri. Kalau tubuh tertekan, merasa tidak dapat menerima penyakit, enzim penyembuh yang ada dalam diri, tidak bisa keluar dan kita tidak dapat sembuh2. Obat dokter memang membantu, tapi cuma sekian persen. Yang paling membantu adalah keyakinan diri sendiri dan ikhlas. Ikhlas memang obat segalanya, bu. Dan untuk menuju ikhlas memang tidak mudah. Sabar."
Gantian pak Sigit ngobrol denganku--karena dia tahu, aku tidak lagi di Jogja, menemani kedua orangtuaku.
"Semua itu harus diterima dulu secara ikhlas. Dapet kuliah di Sastra Arab, alhamdulillah, kerja di Bank, alhamdulillah. Disyukuri sebagai pertolongan Allah. Kalau sudah begitu, insya Allah karirnya cepet naik. Dan lagi, perbanyak shadaqah. Kita kan punya jatah dari Allah 'berdoalah, Aku akan mengabulkan permintaanmu.', nah, kita manfaatkan statement Allah itu, untuk berbuat baik sebanyak mungkin."
Iya, berbuat baik sebanyak mungkin selagi masih hidup, selagi sempat, selagi mampu.
PAk Sigit kerja di perusahaan tambang di Jakarta. bu Yuli lulusan S2 psikologi dan memilih jadi ibu rumah tangga. Anak pertama, Zahra, mahasiswi Arsitektur Undip. Anak kedua, Bintang, masih SMA, yang ketiga, Caesar, masih anabil :D . Setelah salam2 seperti biasanya, bu Yuli ngobrol dengan ibuku, menanyakan bagaimana keadaannya--karena beliau tahu, ibuku belum lama ini opname karna sakit jantung. Ibu menjawab yang--mungkin karena redaksinya--terdengar seperti keluhan. Sebagai orang yang begitu lama berkecimpung di psikologi, bu Yuli mengiyakan dulu keluhan ibu, setelah itu memberikan masukan.
"Iya, Bu, tidak apa-apa. Semua memang perlu proses. Mengeluh dulu tidak apa-apa, setelah itu ikhlaskan. Insya Allah cepat sembuh. Yang penting dari penyembuhan adalah dari dalam diri sendiri. Kalau tubuh tertekan, merasa tidak dapat menerima penyakit, enzim penyembuh yang ada dalam diri, tidak bisa keluar dan kita tidak dapat sembuh2. Obat dokter memang membantu, tapi cuma sekian persen. Yang paling membantu adalah keyakinan diri sendiri dan ikhlas. Ikhlas memang obat segalanya, bu. Dan untuk menuju ikhlas memang tidak mudah. Sabar."
Gantian pak Sigit ngobrol denganku--karena dia tahu, aku tidak lagi di Jogja, menemani kedua orangtuaku.
"Semua itu harus diterima dulu secara ikhlas. Dapet kuliah di Sastra Arab, alhamdulillah, kerja di Bank, alhamdulillah. Disyukuri sebagai pertolongan Allah. Kalau sudah begitu, insya Allah karirnya cepet naik. Dan lagi, perbanyak shadaqah. Kita kan punya jatah dari Allah 'berdoalah, Aku akan mengabulkan permintaanmu.', nah, kita manfaatkan statement Allah itu, untuk berbuat baik sebanyak mungkin."
Iya, berbuat baik sebanyak mungkin selagi masih hidup, selagi sempat, selagi mampu.
Selasa, 14 Agustus 2012
Jogja...I can smell your sound...
Why does every one love Jogja?
Entah, karena aku lahir dan besar di kota itu. Belasan tahun berkutat di jalan-jalan itu, menjalani rutinitas itu, menyerap nilai-nilai itu, aku tidak tahu mengapa banayk orang merindukan Jogja.
Apakah aku merindukan Jogja?
Setiap kali menutup mata, di antara jeda menginput data ke Prospera, yang kulihat jalan-jalan di rumahku. warung kecil tempat aku pernah terjerembab ketika bermain in line skate, lapangan di seberangnya, warna putih merah, putih biru, putih abu-abu, motor-motor, mobil, dan kesenyapan tika hari raya tiba.
Jogja, my root, my deepest word, my snow in a strange dessert, my chocholate, my cheese, my anything to tell.
Entah, karena aku lahir dan besar di kota itu. Belasan tahun berkutat di jalan-jalan itu, menjalani rutinitas itu, menyerap nilai-nilai itu, aku tidak tahu mengapa banayk orang merindukan Jogja.
Apakah aku merindukan Jogja?
Setiap kali menutup mata, di antara jeda menginput data ke Prospera, yang kulihat jalan-jalan di rumahku. warung kecil tempat aku pernah terjerembab ketika bermain in line skate, lapangan di seberangnya, warna putih merah, putih biru, putih abu-abu, motor-motor, mobil, dan kesenyapan tika hari raya tiba.
Jogja, my root, my deepest word, my snow in a strange dessert, my chocholate, my cheese, my anything to tell.
Mudiiiiik....
gini ternyata rasanya mudik.
naik Kramat djati dari Martabak San Fransisco (tempat beli tiket), nungguin bus besar itu datang...dan menunggu berbuka puasa tentu. ditemani dua teman se wisma, mba DN dan IN (kita inisialkan saja supaya privacy mereka terjaga), akhirnya bus itu datang juga dengan segala pesona bagi para mudikers.
Kami--aku dan mba IN--harusnya naik bus kode CN-31. Tapi entah kenapa, kami diminta naik juga ke bus ini. alhasil, aku yang semula mau jamak shalat isya, segera membatalkan diri, ngacir ke bus *maafkan aku ya Allah*
Naiklah kami dengan tenang sentausa. kami diminta turun di terminal--lupa aku namanya. kami harus ganti bus selanjutnya..bus kode CN-31.
Jadi, di martabak San Fransisco itu apa? pengusiran biar ga penuh ya?
Baiklah, mari kita lanjutkan. Sampai di terminal yang aku lupa apa namanya, kami turun dan menunggu bus yang seharusnya kami tumpangi dari pull. "Bener kata pak sopir taxi, kenapa juga kita berangkat dari agen?" begitu kata mba IN di sela2 aku mengantuk akibat antimo sebutir (kasian, ya? nggak di travel, nggak di pesawat, muntah melulu).
Di terminal, malam-malam, menjaga koper, tas, dan kresek, berdiri setengah pengen tidur, setengah pengen tidur sambil dengerin cerita mba IN....mungkin memang begini rasanya mudik. Sesuatu banget.
Sepuluh-sebelas jam di bus (saingan perjalanan pesawat solo-jeddah), kaki menebal, kepala lieur-lieur efek antimo yang begitu manjur, akhirnya tiba juga di Jobor, terminal kesayangan mudikers budiman. turun dari bus, disambut pak taxi. langsung dia pasang tarif Rp 40.000 jamal-wirobrajan. yang bener aja, pak?
"Mboten pak. Ngagem argo mawon."jawabku mencoba sesopan mungkin. "Enggak pak, pake argo aja."
Akhirnya, ada pak taxi yang bersedia pake argo."Tapi tambah 5000, ya, mbak."
Aku ngikut. ini bulan Ramadhan, aku ingin segera sampai rumah.
naik Kramat djati dari Martabak San Fransisco (tempat beli tiket), nungguin bus besar itu datang...dan menunggu berbuka puasa tentu. ditemani dua teman se wisma, mba DN dan IN (kita inisialkan saja supaya privacy mereka terjaga), akhirnya bus itu datang juga dengan segala pesona bagi para mudikers.
Kami--aku dan mba IN--harusnya naik bus kode CN-31. Tapi entah kenapa, kami diminta naik juga ke bus ini. alhasil, aku yang semula mau jamak shalat isya, segera membatalkan diri, ngacir ke bus *maafkan aku ya Allah*
Naiklah kami dengan tenang sentausa. kami diminta turun di terminal--lupa aku namanya. kami harus ganti bus selanjutnya..bus kode CN-31.
Jadi, di martabak San Fransisco itu apa? pengusiran biar ga penuh ya?
Baiklah, mari kita lanjutkan. Sampai di terminal yang aku lupa apa namanya, kami turun dan menunggu bus yang seharusnya kami tumpangi dari pull. "Bener kata pak sopir taxi, kenapa juga kita berangkat dari agen?" begitu kata mba IN di sela2 aku mengantuk akibat antimo sebutir (kasian, ya? nggak di travel, nggak di pesawat, muntah melulu).
Di terminal, malam-malam, menjaga koper, tas, dan kresek, berdiri setengah pengen tidur, setengah pengen tidur sambil dengerin cerita mba IN....mungkin memang begini rasanya mudik. Sesuatu banget.
Sepuluh-sebelas jam di bus (saingan perjalanan pesawat solo-jeddah), kaki menebal, kepala lieur-lieur efek antimo yang begitu manjur, akhirnya tiba juga di Jobor, terminal kesayangan mudikers budiman. turun dari bus, disambut pak taxi. langsung dia pasang tarif Rp 40.000 jamal-wirobrajan. yang bener aja, pak?
"Mboten pak. Ngagem argo mawon."jawabku mencoba sesopan mungkin. "Enggak pak, pake argo aja."
Akhirnya, ada pak taxi yang bersedia pake argo."Tapi tambah 5000, ya, mbak."
Aku ngikut. ini bulan Ramadhan, aku ingin segera sampai rumah.
Sabtu, 11 Agustus 2012
nice to see them again
just an ordinary old man, but I miss him so much
just an ordinary housewife, but I miss her so much
just an ordinary older sister, but I miss her so much
just an ordinary younger brother, but I miss him so much
just an ordinary big family with all those problems, but I miss them so much
just an ordinary housewife, but I miss her so much
just an ordinary older sister, but I miss her so much
just an ordinary younger brother, but I miss him so much
just an ordinary big family with all those problems, but I miss them so much
Jumat, 03 Agustus 2012
menggelitik saraf otak kanan
haah, udah lama ga nulis sesering dulu. sekarang yang ditulis memo rapat, permintaan kas kecil, nama di slip penerimaan uang.saraf kreatifku yang dulu melimpah, sekarang menguap entah ke mana. yang pasti menguapnya bukan ke lembang.
baiklah. harus belajar nulis lagi. mulai dari lima menit. sepuluh menit, satu jam, dua jam, seharian...hahahahaha. yang terakhir bercanda karna kerja jadi wakil manajer, lebih repot urusan dalam negeri.,.....
baiklah. harus belajar nulis lagi. mulai dari lima menit. sepuluh menit, satu jam, dua jam, seharian...hahahahaha. yang terakhir bercanda karna kerja jadi wakil manajer, lebih repot urusan dalam negeri.,.....
Selasa, 03 Juli 2012
Meluruskan niat, mengingat doa
masih mengeluh ketika gaji tak juga cair?
Ya Allah, bukan itu maksudku, dan Engkau Maha Tahu apa yang tersembunyi di hatiku.
Aku tidak ingin merepotkan lagi orangtuaku yang sekarang sedang repot--mungkin.
Maka, tolonglah selalu hamba-Mu ini.
Aku memohon cintaMU dan cinta orang-orang yang mencintaiMU. Dan aku mohon cinta kepada amalan-amalan yang mendekatkanku pada cintamu. Amin.
Ya Allah, bukan itu maksudku, dan Engkau Maha Tahu apa yang tersembunyi di hatiku.
Aku tidak ingin merepotkan lagi orangtuaku yang sekarang sedang repot--mungkin.
Maka, tolonglah selalu hamba-Mu ini.
Aku memohon cintaMU dan cinta orang-orang yang mencintaiMU. Dan aku mohon cinta kepada amalan-amalan yang mendekatkanku pada cintamu. Amin.
Langganan:
Postingan (Atom)
